Ahsanul Amal

Sebaik-baiknya Amal ( cc )

AS. Kia

 

 

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu ۝ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. 67: Al Mulk: 1-2 ).

            Syahdan disuatu desa hidup seorang saleh yang kerap melaksanakan shalat jama’ah di masjid jami di desanya. Suatu ketika, saat fajar merayap di bawah rerintik hujan ketika sebagian orang masih berkemul dengan selimutnya sang tokoh kita ini bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh meski suasana masih diliputi kelam malam menjelang fajar. Jerejak kakinya menerabas jalan setapak meski licin dan tergenang air.

            Tiba-tiba, pyarrr glodakk !!! .sang tokoh terjerembab terpeleset jatuh..”Astaghfirullah”. gumam sang tokoh. Padahal baru setengah perjalanan beliau menuju masjid. Dengan sedikit tertatih sang tokoh kita ini kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan pakaiannya meeruskan niatnya shalat berjamaah. Selesai bersih-bersih sang tokoh bergegas diiringi doa keselamatan dalam perjalanan, semburat jingga mulai menyeruak langit malam.

            Glodak byurrr !!! lagi-lagi terjerembab jatuh sang tokoh kita, genang lumpur dan rintik hujan membuatnya terpeleset di perjalanan. Padahal menara masjid telah tampak dikejahuan. ”Astaghfirullah”,  lirih sang tokoh. Diurungkan niatnya melanjutkan perjalanan ke masjid. ”Tidak mungkin aku shalat dengan pakaian berlumur lumpur”, pikirnya. Kembali sang tokoh kita ini bergegas ke rumah untuk membersihkan diri. Tekadnya kuat untuk tetap melanjutkan shalat subuh berjamaah, terlebih hujan telah reda, genang air telah menyusup celah-celah jalan setapak meski fajar shodiq belum menampakkan dirinya.

            Tap..tap..tap.. langkahnya berderap mantap, sigap berpacu dengan cakra bayu semburat jingga. Sayup-sayup kokok ayam jantan bersahutan laksana genta fajar. “ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR”, adzan subuh menggema, meriangkan bulu roma yang mendengarnya, laksana suluh Israfil menggemakan kiamat. Noktah jingga bertabur bumbung di kejauhan. Oooh, ternyata seseorang berjalan dengan obor ditangan bertemu sang tokoh dalam perjalanan menuju masjid. ”Alhamdulillah”, kilah sang tokoh. “Aku bisa bersama orang yang membawa obor ini menuju masjid. Sepertinya dia pun satu perjalanan dan insyaAllah aku tidak terpeleset lagi”, tawa sang tokoh dalam hati.

            Dan akhirnyapun sang tokoh bersama orang yang membawa obor telah sampai di halaman masjid. Sebagian jama’ah sedang melaksanakan shalat sunnah fajar. Sang tokoh mengajak masuk pembawa obor untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah, namun ajakan tersebut ditolak pembawa obor, berkali-kali sang tokoh mengajak berkali-kali pula pembawa obor menolak. Penasaran sang tokoh bertanya kepada pembawa obor..”mengapaaa..mengapaaa..??”

            “Aku ini adalah Iblis”, jawab pembawa obor, “Astaghfirullah”, terkesiap sang tokoh atas pengakuan pembawa obor, “so what opo maksute denmas iblis iringi perjalananku menuju masjid”?? Tanya sang tokoh,..”begini ceritanya”, lanjut Iblis

            Ketika awalan anda pergi menuju masjid, akulah yang menyebabkan kisanak terjatuh pertama kali. Kemudian kisanak istighfar kembali ke rumah membersihkan diri untuk kembali meneruskan niat ke masjid. Ketika itu ALLAH AZZA WA JALLA mengampuni dosa-dosa kisanak.Kemudian kejatuhan kedua kalinya, akulah yang membuat kisanak terjerembab jatuh. Lagi-lagi kisanak istighfar kembali ke rumah membersihkan diri untuk kembali ke masjid. Ketika itu ALLAH AZZA WA JALLA mengampuni dosa-dosa keluarga dan kerabat kisanak. Alih-alih maksud aku membuat kisanak mengurungkan niat shalat berjamaah, malah membuat kisanak mendapat pengampunan dari ALLAH AZZA WA JALLA. Untuk itu terakhir aku mengiringi kisanak untuk memastikan kisanak sampai di masjid untuk shalat berjamaah dengan selamat, tidak terjatuh atau terpeleset lagi, Aku takut kejatuhan yang ketiga membuat seluruh penduduk desa kisanak mendapat pengampunan dosa dari ALLAH AZZA WA JALLA.

Halimun dingin yang tiba kala fajar dipuncak menara alam bersama renungan cakrawala hening sesaat terlena kagum terkulai bagai mimpi akan peristiwa yang baru saja dialami sang tokoh. “SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WA LA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR”, lirih tasbih sang tokoh dalam ta’dib shalat mengalun bersama tasbih alam mengiringi dzikir dan tafakurnya.

           

Artikel

Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura | Jl. Tipar Cakung No.5 Sukapura, Jakarta Utara (14140)